KabarTaka, BONTANG – Sekretariat Daerah (Setda) Kota Bontang terus mematangkan langkah transformatif menuju tata kelola kantor yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Komitmen ini diwujudkan dengan menggelar kegiatan Sharing Session #5 bertema “Kelola Sampah Perkantoran Menuju Green Office”.
Kegiatan yang diinisiasi Bagian Umum ini mengundang seluruh pegawai Setda dan dilaksanakan di Ruang Rapat Utama Sekretariat Daerah Kota Bontang, Rabu (29/7/2026).
Mewakili Pj Sekretaris Daerah, Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Anwar Sadat, hadir secara langsung membuka acara tersebut. Setda juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menghadirkan pakar teknis yakni Dian Sayekti, S.Si. (Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Pertama) dan Andi Juwarni, S.T. (Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda) sebagai narasumber utama.
Anwar Sadat menegaskan bahwa inisiatif Green Office dan Eco Office merupakan jalan keluar bagi permasalahan pelik pengelolaan sampah daerah. Saat ini, TPA harus menanggung beban harian hingga 108 ton sampah, yang memakan biaya operasional tinggi.
Pemkot Bontang telah membekali Setda dengan instrumen solusi berupa Bank Sampah Unit “Sekda Bahagia” yang disahkan lewat SK Kepala DLH No. 150 Tahun 2025. Pengelolaannya diperkuat melalui MoU yang ditandatangani Pj Sekda Akhmad Suharto dan Direktur BSI Bessai Berinta, Mochammad Rizky Wahyudi.
“Selain kita menjadikan kantor kita sebagai green office, tapi ada nilai ekonomisnya juga,” ujar Anwar Sadat, menyoroti potensi daur ulang kertas, plastik, dan pengolahan kompos yang bisa menambah kesejahteraan pegawai serta tenaga cleaning service.
Ia menginstruksikan seluruh jajaran agar disiplin memilah sampah sesuai jenisnya (organik, anorganik, residu, dan limbah B3).
“Intinya adalah mengurangi sampah dari sumbernya. Kalau kita bisa mengurangi sampah dari sumbernya, manfaatnya sangat banyak sekali,” tegasnya.
Sesuai pemaparan DLH, Setda Bontang kini memiliki indikator capaian Green Office yang terukur. Pemkot menargetkan pengurangan kertas sebesar 30%, pengurangan sampah 20%, penghematan listrik 15%, dan yang terpenting, 100% pegawai harus memiliki budaya memilah sampah.
Gerakan ini sejalan dengan kampanye GESIT (Gerakan Sampahku Itu Tanggungjawabku) yang terus digalakkan di seluruh lini pelayanan publik Kota Taman.
Sumber : Pemkot Bontang











