Kukar – Teater kolosal operet yang rutin digelar setiap tahun usai upacara bendera dalam Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga kembali menjadi daya tarik sekaligus media pembelajaran sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan upaya nyata untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme sejak dini.
Pelatih sekaligus sutradara teater kolosal, Suyono, saat diwawancarai di Sanga-Sanga pada Jumat, 23 Januari 2026, menegaskan pentingnya menjaga semangat perjuangan melalui kegiatan seni budaya.
“Jangan biarkan sejarah tenggelam atau terlupakan. Melalui teater ini, kami ingin generasi muda benar-benar memahami arti pengorbanan para pahlawan,” ujarnya.
Pada tahun ini, tema “Pembantaian” dipilih sebagai gambaran betapa berat dan kejamnya perjuangan demi mempertahankan merah putih. Tema tersebut diangkat untuk membangkitkan kembali semangat kepahlawanan sekaligus mengajarkan masyarakat agar lebih menghargai sejarah dan jasa para pahlawan.
“Melalui pertunjukan ini, anak-anak sekolah diajak memahami bahwa sejarah merupakan bagian penting yang tidak boleh dilupakan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia digambarkan secara nyata, menunjukkan bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan besar, bahkan hingga mengorbankan jiwa dan raga,” jelasnya.
Persiapan teater kolosal ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu dengan melibatkan sekitar 140 orang, termasuk 120 pemain. Menariknya, partisipasi datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak SD, SMP, SMA, hingga SMK. Tak hanya pelajar, masyarakat umum dan para senior yang tidak lagi bersekolah juga turut ambil bagian demi menyukseskan kegiatan tersebut.
Keterlibatan masyarakat luas menjadi kunci keberlangsungan tradisi sejarah di wilayah Sanga-Sanga.
“Antusiasme masyarakat terhadap teater kolosal operet ini terbilang tinggi. Setiap tahun, warga menantikan pertunjukan tersebut sebagai sarana mengenang perjuangan pahlawan sekaligus hiburan edukatif yang sarat makna sejarah,” tambahnya.
Dukungan dari pemerintah pun mulai dirasakan, bentuk dukungan yang diberikan antara lain penyediaan kaos oleh panitia kecamatan serta anggaran untuk konsumsi peserta. Sebelumnya, kegiatan ini sepenuhnya dibiayai secara mandiri oleh panitia.











